BANDUNGSATU.COM – 50 hari menjelang pencoblosan, menakar kekuatan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati KBB.
Dalam politik demokrasi, seseorang dengan elektabilitas serta popularitas tinggi memiliki kesempatan lebih besar untuk menang. Mengapa demikian? Seseorang atau pasangan calon dengan elektabilitas tinggi artinya tingkat keterpilihannya oleh masyarakat juga tinggi.
Kondisi demikian tidak akan berguna jika ia tidak memiliki popularitas. Karenanya, iya juga memerlukan popularitas tinggi. Singkat kata, tingkat elektabilitas dan popularitas tinggi dari seseorang atau pasangan calon akan membuatnya dengan mudah memenangkan hati masyarakat dan dengannya pula memenangkan Pilkada KBB
Hal tersebut disampaikan Ketua Pusat Kajian Politik Ekonomi dan Pembangunan Holid Nurjamil, Minggu (06/10),
“Dalam analisis SWOT untuk memenangkan Pilkada di KBB yang begitu luas, memiliki 165 desa dengan jumlah DPT diatas 1,35 jt, tidak cukup hanya mengandalkan figur/ketokohan calon saja, perlu didukung oleh kekuatan mesin politik yang kuat (tim pemenangan + relawan) yang memiliki infrastruktur sampai tingkat grassroot, karena mereka lah yang menggerakkan dan mengimplementasikan strategi politik pasangan calon,” ungkap Holid.
Ia juga mengatakan bahwa perubahan kepemimpinan nasional pasca pelantikan Presiden dan pembentukan kabinet, juga diprediksi akan berdampak pada perubahan konstelasi politik di daerah terkait kepentingan elit di nasional dan kepentingan politik di KBB.
“Dengan waktu tinggal 50 hari menjelang pencoblosan, dengan melihat data survei terakhir tingkat popularitas calon bupati masih bervariatif, HK (Hengki Kurniawan) sebagai calon petahana memiliki tingkat popularitas yang paling tinggi diatas 90%, sedangkan pasangannya Ade Sudrajat masih dibawah 5%. Kondisi ini menjadikan pasangan HADE memiliki tingkat elektabilitas yang paling tinggi,” jelas Holid.
“Jika kita petakan semua Calon yang diusung oleh koalisi partai politik masih memiliki kesempatan untuk memenangkan pilkada pada 27 November,” imbuh Holid.
Holid juga mengatakan, dilihat dari hasil survei, walaupun pasangan HADE memiliki tingkat elektabilitas tertinggi, tapi 40% masih memungkinkan untuk berubah jika ada isu atau sesuatu mempengaruhinya. Begitu juga dengan mereka yang belum menentukan pilihannya masih ada sekitar 16%. Jika dikonversikan secara keseluruhan masih sekitar 44% yang akan benar-benar menentukan pilihan seminggu menjelang pencoblosan.
“Mari kita lihat 50 hari ke depan, dengan waktu yang mepet, apa saja yang akan dilakukan oleh masing-masing pasangan calon. Kalo kita mengibaratkan tujuannya ke Jakarta dari Padalarang, Apa akan naik kereta cepat whoos dengan ongkosnya lebih mahal atau kereta Argo Parahyangan dengan ongkos lebih murah, atau naik mobil lewat tol Cipularang, karena dengan begitu akan terlihat siapa yang paling cepat mencapai tujuan,” kata Holid memberi analogi.
Selain itu, kata Holid, dukungan sumber dana kampanye yang kuat pun menentukan suara. Ia mengungkapkan, jika didukung anggaran yang mumpuni, maka pasangan calon tersebut akan dapat melaksanakan semua program kegiatannya yang dapat meningkatkan elektabilitasnya dengan cepat.
“Begitu juga tingkat toleransi terhadap money politic di KBB termasuk tinggi, di angka 60 %. Artinya ini bentuk ancaman demokrasi yang juga bisa merubah peta kemenangan,” pungkas Holid.(*)






