Globalisasi Jadi Ancaman, Wajit dan Unhan Sarankan Perkuat Ketahanan Nasional dan Bela Negara

Foto/Istimewa

BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM – Ketahanan nasional dan bela negara menjadi topik yang diketengahkan dalam seminar sehari bertajuk Dampak Globalisasi Terhadap Demokrasi Pancasila dan Ketahanan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045, yang diadakan oleh Universitas Pertahanan dan Wajit (Wahana Aspirasi Jaringan Intelektual), Sabtu (01/06).

Diskusi tersebut dihadiri Prof. DR. Didin Muhafidin, S.Ip. M Si. (UNPAD), Pj Bupati Bandung Barat Drs. Arsan Latief, M.Si, Laksamana Muda TNI DR. Sri Yanto, ST. M Si, Marsekal Muda TNI DR. Agus Sudarya, SE. SH. MM. M Sc, Kolonel Tek. DR. Ir. Hikmat Zakky Almubarok, SPd. M Si. CIQaR, CIQnR, MCF, DR. Editha Praditya, Duarte, S Sos. MIS, MA, Rifky Ahmad Sulaeman, Drs. H Djamu Kertabudhi, M.Si, yang semuanya menjadi pembicara dalam diskusi itu, sementara bertindak sebagai moderator adalah Dadan.

Seminar yang diselenggarakan Wahana Aspirasi Jaringan Inteletual (Wajit) bersama Universitas Pertahanan, dalam memperingati Hari lahir Pancasila itu, mengungkap pentingnya sosialisasi dan Penyelenggaraan bela negara dan ketahanan nasional Kepada generasi muda.

Hal itu dikatakan Ketua Wajit, Haris Bunyamin usai acara yang bertempat di Floating Resto Saung Apung Parahiyangan, Kampung Cikebluk Desa Cikande, Kecamatan Saguling KBB.

“Sebenarnya gagasan Wajit ini tercetus sudah lama, kebetulan baru bisa dilakukan hari ini dan alhamdulillah kegiatan ini, di Kabupaten baru pertama kali di Bandung Barat,” kata Haris Bunyamin.

“Diskusi ini dibahas bagaimana ketahanan nasional ini bisa mencegah terhadap arus globalisasi yang memang bergitu masif,” imbuhnya.

Haris Bunyamin terutama mengkhawatirkan pengaruh media sosial yang saat ini sangat sulit difilter di kalangan generasi muda.

“Libur aja mereka langsung buka gadget, soal tiktok, game atau apa saja. Nah ini persoalan yang sangat besar yang harus kita hadapi,” tegas Haris. Seraya mengatakan bahwa globalisasi ini pengaruhnya sangat penting disikapi sebagai suatu masalah besar disamping soal terorisme dan juga narkotika.

Globalisasi yang memeiliki efek merusak tersebut, menurut Bunyamin sudah terlihat dari budaya anak muda masa kini yang tidak memiliki nilai juang dan segalanya ingin cepat saji.

“Untuk itu kami bersinergi dengan Kementerian Pertahanan RI yang di dalamnya ada Universitas Pertahanan, kita coba ketengahkan soal bela negara dan ketahanan nasional ini,” sambung Haris Bunyamin.

Haris Bunyamin juga mengatakan bahwa tidak hanya di Kabupaten Bandung Barat, kegiatan yang sama akan dilakukan di Kabupaten Bandung. Ia mengatakan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan Bupati Bandung Barat. Untuk itu ia akan terus mengembangkan pemahaman bela negara dan ketahanan nasional melalui pembahasan soal Pancasila juga.

“Ini perlu dikembangkan terus karena Pancasila adalah dasar negara kita. Anak-nanak generasi millenial saat ini sudah banyak yang tidak paham apa dan bagaimana mengamalkan nilai-nilai Pancasila,” jelas Haris Bunyamin.

Sementara itu salah satu pembicara, Kolonel Tek. DR. Ir. Hikmat Zakky Almubarok, SPd. M Si. CIQaR, CIQnR, MCF, orang asli dari Cililin, mengatakan bahwa Unhan telah membuat sistem terhadap ancaman nilai-nilai ketahanan nasional. Ia mengatakan untuk mengetahui ancaman tersebut diperlukan dulu pengetahuan soal filosofi ancaman, seperti saat membangun rumah, tentu diperlukan pagar dan benteng.

“Nah dari perhitungan kami, analisi ancaman, memang ancaman itu harus terbagi 3, besarnya ancaman, arah ancaman, sama jenis ancaman. Hasil dari analisis ancaman, melihat negara-negara di sekitar Indonesia, ancaman yang terbesar adalah ancaman sabotase. Makanya tadi dipaparkan tentang cyber attack. Itulah ancaman tertinggi saat ini,”kata Zakky.

Zakky juga mengatakan, untuk membentengi ancaman tersebut dibutuhkan pembangunan karakter. Karena karakter bangsa bisa menjadi benteng bela negara dan ketahanan yang baik.

 

“Kita punya bonus demografi. Bonus demografi itu bila tidak dikelola dengan baik, sangat berbahaya. Yang paling pertama harus dikelola apa? Karakter. Ini yang perlu diperbaiki pertama kali, yaitu karakter,” pungkas Zakky. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *