Pengusaha Wisata Tidak Setuju Study Tour Dilarang, yang Perlu Disiapkan Adalah Infrastruktur

Pengusaha yang bergerak di bidang wisata Lembang Kabupaten Bandung Barat, Perry Tristanto. Foto/Istimewa

BANDUNG, BANDUNGSATU.COM – Surat edaran yang disampaikan oleh Pj Gubernur Jabar Bey Mahmudin soal pelarangan study tour oleh sekolah di Jawa Barat menuai pro dan kontra.

Salah satu yang tidak sepakat dengan pelarangan tersebut adalah pengusaha yang bergerak di bidang wisata, Perry Tristianto. Perry mengatakan meski surat yang dikeluarkan Pj Gubernur melarang, namun ada rekomendasi untuk meminta ijin pada Disdik dan bisa dilakukan di dalam kota atau dalam provinsi, namun sebaiknya yang dihighlight bukan pelarangannya, namun SOP.

“Sekarang malah kabupaten kota melarang study tour. Padahal pak Bey bilang hanya harus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, kemudian dilakukan dalam kota atau provinsi,” kata Ferry, Kamis (16/05).

Perry mengatakan study tour sekolah menjadi salah satu penyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah). Selain itu bagaimana pun study tour pasti memiliki nilai edukatif.

“Wisata ini jadi PAD loh. Tidak hanya menguntungkan kami para pengusaha. Kalau rame kan pemasukan ekonomi buat daerah dan juga warga sekitar akan tumbuh. Lagi pula tentu sekolah pasti juga mempertimbangkan nilai edukasinya,” tegas Perry, pemilik  objek wisata di Lembang, seperti Floating Market, The Great Asia Afrika, Farmhouse dan Tahu Lembang.

“Yang perlu dibahas dan disiapkan oleh pemerintah justru sarana pendukung wisata yang berimbas pada keselamatan wisatawan,” imbuh Perry

Soal keselamatan Perry menyoroti akses jalan yang kecil namun masih dilintasi bus-bus besar. Kalau ada pelarangan, sebaiknya diawasi. Tidak hanya melalui imbauan. Tapi karena beberapa jalan kecil itu menjadi penghubung ke sejumlah objek wisata, menurut Perry sebaiknya justru dilebarkan. Sekali lagi ia menyebut, infrastruktur itu sangat penting.

“ Jalan Kolonel Masturi itu rawan kan. Ada juga beberapa jalan lain di KBB untuk menuju tempat wisata, selain jalannya kecil, ada yang ekstrem juga naik turun dan belokannya. Kenapa tidak dilebarkan saja. Kalau ada larangan seperti yang ke Cihideung dari Sersan Bajuri, sebaiknya diawasi ketat. Atau ya, kata saya tadi dilebarkan saja,” tukas Perry.

Begitu pun dengan operator wisata. Untuk travel, menurutnya harus menyiapkan bus yang benar-benar prima. Sehingga peristiwa kecelakaan lalu lintas bus parawisata yang membawa para pelajar sedang study tour kemarin tidak terulang.

Perry juga mengaku bahwa infrastruktur pun harus menjadi bagian dari pengusaha wisata. Lahan parkir misalnya, harus bisa diestimasikan sehingga tidak mengakibatkan kemacetan. Ia pun mengatakan bahwa parkir pun bisa dikerjasamakan dengan masyarakat yang memiliki lahan luas. Setidaknya pelibatan masyarakat bisa juga memberi dampak ekonomi bagi mereka.

Perry juga menyinggung soal keselamatan pengguna jasa wisata. Setidaknya yang ia sudah lakukan adalah menyertakan asuransi bagi wisatawan yang mengalami kecelakaan di objek wisatanya.

“Semua orang yang wisata di saya, kecelakaan, ada asuransi. Nah pengusaha kayak gini-gini kan harus terlibat dong,” kata Perry.

Ia mengatakan bahwa semakin baik fasilitas, maka semua bonafitnya akan kembali Kepada perusahaan. Diantaranya adalah kepercayaan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *