INTERNASIONAL, BANDUNGSATU.COM – Mark Zuckerberg hadir pada sidang Parlemen Amerika, Selasa (30/01) untuk mengikuti hearing (rapat dengar pendapat) soal perlindungan anak dari predator seksual yang memanfaatkan media sosial untuk menjalankan aksinya.
Dalam sidang itu tak tanggung-tanggung Senator Partai Republik Lindsey Graham mengatakan bahwa tangan Zukerberg menggenggam darah. Ia mengatakan itu sehubungan data bahwa banyak pelaku pelecehan seksual memanfaatkan medsos besutan Meta, milik Zukerberg untuk aksi bejatnya.
Hearing itu sendiri digelar para pembuat Undang-undang tersebut untuk mendorong orangtua dan ahli kesehatan mental untuk meminta pengelola media sosial agar platform yang mereka miliki tidak berbahaya untuk anak dengan menerapkan kebijakan yang ketat untuk melindungi anak-anak
“Pak Zurkerberg, Anda dan Perusahaan lain di hadapan kami, Saya tahu Anda semua tidak bermaksud memberi celah pada para predator itu, Namun Anda Mmenggenggam darah di tangan Anda,” kata Linday.
Senator lainnya Dick Durbin mengatakan bahwa di media social ia melihat ada peningkatan bisnis esek-esek yang dibuat predator seks dengan cara mengirim foto eksplisit pada pelanggannya, tentu dengan harga yang menarik.
“Eksploitasi seksual pada anak ini didorong hanya oleh satu hal, yaitu teknologi,” kata Dick.
Selepas para senator memberikan pandangannya, video testimoni dari anak-anak yang menjadi korban eksploitasi seksual pun dimunculkan, meski hanya berupa suara dan fisik mereka hanya ditampilkan berupa bayangan, untuk melindungi privasi mereka.
“Saya adalah korban eksploitasi seksual di Facebook,” kata seorang anak.
Tidak hanya anak yang menjadi korban yang dihadirkan melalui video pada hearing tersebut, belasan orangtua yang anaknya jadi korban pelecehan seksual di media sosial pun turut dihadirkan.
Mereka tidak hanya melakukan protes atas tidak ketatnya perlindungan pada anak di Facebook, sebagian lainnya melontarkan cemoohan pada Zuckerberg.
Menanggapi hal tersebut, Zuckerberg menyampaikan penyesalan yang mendalam dan mengungkapkan rasa simpatinya pada para korban. Ia berjanji untuk memperketat kebijakan penggunaan Facebook, meski pun ia menampik tuduhan menjadi fasilitator bagi para predator itu.
“Kami tentu bukan fasilitator bagi para predator. Meski demikian, kami tidak menampik untuk memperbaiki security akses facebook kami agar tidak jatuh korban lebih banyak. Saya tentu sangat menyesal pada yang terjadi dan turut bersimpati pada para korban dan orangtua yang sudah hadir ikut mengkritisi kebijakan kami,” kata Zukerberg. (REU/MIM)






