PT PLN Indonesia Power UBP Saguling Bersama Pemda Bandung Barat Bersihkan 13 Titik Eceng Gondok di Waduk Saguling

Genangan waduk Saguling yang beradai di Ciminyak Desa Rancapanggung, Kecamatan Rancapanggung KBB, saat ini permukaannya ditumbuhi tanaman eceng gondok. Senin(29/06). Foto/Istimewa

BANDUNGSATU.COM – Waduk Saguling saat ini mengalami kondisi paparan eceng gondok yang sangat parah yang berimbas pada kualitas air dan pendangkalan perairan sepanjang waduk.

Data menunjukan, dari 120 hektar yang tersebar, ada 13 titik dengan titik terluas mencakup sekitar 70 hektar yang tercemar.

Atas kondisi ini, PT PLN Indonesia Power UBP Saguling bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat dan berbagai pemangku kepentingan melaksanakan giat pembersihan besar-besaran yang melibatkan ratusan personel serta dukungan alat berat guna menekan laju penyebaran tanaman pengganggu tersebut.

Manager Administrasi UBP Saguling PT PLN Indonesia Power, Huta Rianto menjelaskan, ledakan pertumbuhan eceng gondok ini erat kaitannya dengan memburuknya kualitas air Sungai Citarum yang menjadi sumber utama pasokan air ke waduk.

“Nutrisi berlebih yang berasal dari sisa pakan ikan di keramba jaring apung serta pencemaran yang terbawa aliran sungai menjadi pemicu suburnya gulma air tersebut secara masif,” kata Huta di lokasi pembersihan di Desa Rancapanggung, Senin, (29/06).

Huta mengatakan, pihaknya telah berupaya membersihkan secara rutin setiap tahun dan menempatkan tim pembersih di tujuh titik, namun kondisi yang ada saat ini memerlukan dukungan dan kolaborasi yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

“Kualitas Sungai Citarum sangat jelek, indikasinya terlihat dari tumbuhnya eceng gondok yang sangat lebat,” jelasnya.

“Ini ditambah nutrisi dari sisa pakan ikan yang tidak habis. Kondisi ini adalah yang terparah yang pernah kami catat,” imbuhnya.

Huta juga mengatakan, upaya pembersihan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan sekitar 350 orang yang terdiri dari unsur TNI, Polri, instansi terkait, hingga warga sekitar dan dipimpin langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati Bandung Barat.

“Pembersihan kita pusatkan di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, operasi juga berjalan paralel di tiga titik lain di Cililin dan empat titik di Kecamatan Cihampelas,” ujarnya.

Selain itu, upaya pembersihan didukung dengan penambahan ekskavator dan ponton dari Balai Besar Wilayah Sungai Citarum dengan target awal mengurangi penutupan eceng gondok hingga mencapai 50 persen dari luasan yang teridentifikasi.

“Pembersihan kita targetkan bisa selesai kurun waktu sekitar dua bulan, meskipun bupati menginginkan penyelesaian yang lebih cepat,” ungkapnya.

Terkait penanganan jangka panjang dan pemanfaatan hasil angkutannya, Huta mengungkapkan, eceng gondok tidak dibuang sembarangan yang justru akan menimbulkan masalah baru.

Tanaman tersebut, kata Buta, diolah menjadi barang bernilai ekonomi, seperti media tanam jamur merang, bahan baku kerajinan, hingga dikaji potensinya sebagai bahan bakar briket.

“Upaya ini sekaligus melibatkan masyarakat sekitar dalam pengembangan ekonomi kreatif,” kata Huta.

Huta pun menilai perlunya pendekatan mendasar berupa edukasi kepada masyarakat dan sekolah-sekolah untuk menumbuhkan kesadaran menjaga kualitas air, sehingga akar masalah pertumbuhan eceng gondok dapat dikendalikan secara berkelanjutan.

“Kami tidak hanya bertindak reaktif, tetapi harus mencari akar masalahnya. Jika tidak, pembersihan akan terus berulang tanpa henti. Edukasi dan kesadaran masyarakat sangat penting agar kualitas air yang masuk ke waduk tetap terjaga,” tegasnya.

Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Pemkab Bandung Barat, juga sebagai koordinator pembersihan eceng gondok di Waduk Saguling, Rini Sartika menjelaskan, kegiatan ini merupakan wujud sinergi lintas sektor yang nyata.

Melalui keterlibatan aktif PLN, BBWS Citarum, Forkopimda, dinas lingkungan hidup, hingga perangkat desa, pembersihan berjalan serentak dan terpadu.

“Pengerahan alat berat dan armada pengangkut yang difokuskan di titik terparah diharapkan dapat mempercepat pengangkatan eceng gondok, sehingga fungsi waduk sebagai penampung air dan pembangkit listrik dapat kembali optimal serta terhindar dari kerusakan lingkungan yang lebih parah,” pungkasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *