Koperasi ANGKASA Malaysia Gandeng Baznas KBB Bentuk Pengelolaan Koperasi Berbasis Masjid di Cisarua.

Foto/BANDUNGSATU.COM

BANDUNGSATU.COM – Angkatan Koperasi Kebangsaan Malaysia Berhad (Angkasa) menyalurkan bantuan kepada koperasi masjid Ash Sholihin yang ada di Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat.

Penyaluran secara simbolis diberikan langsung oleh President of ANGKASA Malaysia, Datuk Seri DR. Abdul Fattah Abdullah, Minggu (08/02).

“Pertama pertama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada masyarakat di sini, khususnya ke pimpinan masjid dan tidak lupa kepada rekan strategi Angkasa, Badan Amil Zakat Nasional, BASNAS,” kata Abdul.

Abdul mengatakan bahwa tujuan penyaluran bantuan ini adalah untuk menggulirkan ilmu pengelolaan koperasi berbasis masjid.

”Tujuan Angkasa ke mari adalah untuk memperkenalkan, untuk mempromosikan konsep koperasi karah masjid. Kooperasi berbasiskan masjid. Maksudnya masjid Amir Nasional itu untuk menggerakkan, kegiatan ekonomi ahli karah yaitu komunitas setempat dengan menggunakan koperasi sebagai platform. Koperasi sebagai platform untuk membuat ekonomi, bisnis, kita banyak pilihan,” jelas Abdul.

“Kita boleh membuat PT lah, company. Kita boleh membuat kesatuan, NGO. Kita juga boleh membuat frimaan. Tetapi semua yang tiga-tiga itu, dia tidak menempati konsep penjelasan dari pada ahli karah. Itu sebab kita menggunakan koperasi. Kita melahirkan supaya komunitas merasakan aktivitas koperasi di masjid, itu dia punya,” imbuh Abdul.

Abdul mengatakan dengan dibentuknya koperasi berbasis masjid, maka para anggotanya akan punya rasa kepemilikan, sehingga bertanggung jawab dalam pengelolaannya dengan komitmen yang tinggi.

“Jadi dia akan ada rasa sense of ownership, sense of belonging. Jadi dia akan rasa apa yang dibuat di masjid, selain dari pada sholat, juga dia rasa dia ada komitmen. Itulah tujuan dia. Dan untuk tujuan ke Indonesia ini, kita telah pun mezihari ataupun kita telah buat peluncuran ataupun peresmian. Jadi kepada tiga koperasi beri batuan. Hari ini di sini, besok satu lagi,” ungkap Abdul

Abdul juga mengatakan bahwa pihaknya juga sudah memperlihatkan keberhasilan dalam pembentukan koperasi berbasis masjid ini. Di India, yang dijadikan pusat percontohan oleh pihaknya, telah menunjukan kegiatan ekonomi yang produktif

”Jadi dalam konteks ini, memang kita pilih masjid salah satu dari pada kooperasi community, community basis, yaitu perkenalan di masjid. Jadi di saat ini, sudah ada model ini diperkenalkan di Kamboja, di Philippine, Vietnam, dan ini di Indonesia. Dan tahun ini kita buka cadang keluar dari ASEAN, yaitu kita akan pergi ke Jepang,” ungkap Abdul.

Ia juga mengatakan bahwa untuk Indonesia, pilot projek atas konsep ini dipilih di Jakarta untuk kemudian dikembangkan di beberapa kota.

”Kita di Jakarta ada 2 koperasi masjid, Bogor 1, Bandung di Bandung Barat 1, Kabupaten, Bandung 1, jadi 5. Itu harapan kami dari pada Angkasa, supaya model ini dapat dikembangkan oleh rekan-rekan di Indonesia,” tukasnya.

Dipilihnya Baznas sebagai rekanan, kata Abdul, juga bukan tanpa alasan. Ia menyebut Baznas memiliki konsep serupa yang sudah berjalan. Dengan demikian ditemukan kesepahaman dalam menjalankan koperasi berbasis masjid ini.

”Dan antara rekan-rekan saya adalah Baznas. Sebab Baznas memang rapat dengan community karya ini karena Baznas ada program untuk masjid. Untuk jenis bantuan kita terpulang pada, kita hanya bagi di sini, kita bagi satu masjid, satu koperasi masjid ini, kita hanya bagi 3 ribu dolar, US dollar,” ungkap Abdul.

”Untuk Angkasa kita akan bagi pembimbingan dan konsep saja. Kita akan kerja sama kursus. Kita, of course, bagi duit modal saja, tapi kalau ilmu tidak ada, nanti modal pula. Insya Allah kita akan bagi, kita akan bagi kursus, konsep dan sebagainya,” pungkas Abdul.

Sementara itu Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Bandung Barat, Iing Nurdin didampingi Wakil Ketua II, Saiful Rahman mengatakan, kerjasama tersebut sebenarnya antara Angkas dan Baznas RI, namun karena koperasi tumbuhnya rata-rata di daerah, oleh karenanya Baznas KBB dilibatkan.

”Sebetulnya MOU-nya dengan Basnas RI yang pertama dalam rangka memberikan bantuan untuk pendirian koperasi-koperasi masjid. Memang ini adalah pilot project bagi kooperasi angkasa. Angkasa itu kan angkatan koperasi kebangsaan Malaysia. Kalau kita mah koperasi pusatnya lah gitu kan. Yang kemudian memberikan bantuan untuk pemberdayaan masjid gitu kan. Nah di Indonesia itu ada 5,” jelas Iing.

Iing tidak menampik bahwa selain pelatihan, ada pula bantuan modal yang jumlahnya Rp 50 juta, yang akan dipergunakan untuk pengembangan koperasi

”Ada 5 kooperasi, ada 5 kooperasi masjid yang kemudian dibantu oleh mereka. Masing-masing senilai kurang lebih 50 lah gitu kan. Ini yang betul-betul amanah ini yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya gitu kan,” ungkap ling.

Iing sendiri mengatakan bahwa kerjasama ini merupakan silaturahmi positif karena masyarakat di sekitar mesjid diberdayakan untuk membangun koperasi masjid.

”Nah kemudian yang kedua, tujuan mereka kan sebetulnya juga tidak bisa lepaskan dari siratul rahmi. Sehingga kan sebagai sesama negara muslim barangkali kan mereka merasa khawatir bahwa kemudian posisi ekonomi umat islam di negara-negara islam itu sendiri kan sedang serpurukan gitu. Maka dengan mekan mereka mencoba untuk membantu bagaimana kemudian memberdayakan umat Islam khususnya yang ada di sekitar masjid dalam bentuk koperasi masjid itu sendiri,” ungkap ling.

Ia sendiri bersyukur karena di Bandung Barat, telah dipilih satu mesjid di Cisarua untuk percontohan koperasi berbasis mesjid ini.

”Jadi untuk di Kabupaten Bandung Barat hanya di Cisarua saja sekarang. Ini hanya satu. Jadi dari 5 itu kan 2 di Jakarta, 1 di Bogor, kemudian 1 di Bandung Barat, 1 di Kabupaten Bandung,” kata ling.

Dalam kerjasama ini, koperasi dibentuk baru. Percontohan di KBB ini bahkan baru dibentuk Oktober lalu. Selain itu, kata ling, bentuknya bukan simpan pinjam, namun dana bergulir untuk anggota yang akan diberdayakan secara ekonomi.

”Anggotanya dari warga sekitar masjid lah para pengurus masjid, kemudian warga-warga yang memang berjualan di sekitar masjid nantinya. Bentuknya mungkin nanti apakah bukan simpan pinjam, nantinya kan diberikan dana bergulir gitu kan untuk para anggota. Yang mungkin nanti harapannya sebetulnya adalah mereka bisa berdaya dan kemudian juga bisa ada pengembalian yang kemudian akan digulirkan kembali pada anggota-anggota yang lain. Nantinya kan pedagang-pedagang yang disini, yang ada di masjid kan.Karena kan prioritasnya memang warga yang ada di sekitar DKM,” jelang ling.

Dana bergulir yang akan dimanfaatkan untuk memberdayakan ekonomi anggota tersebut, kata ling jumlahnya Rp 50 juta. Namun demikian sampai saat ini koperasi masih terus menyeleksi anggota mana yang akan mendapat bantuan dengan syarat dan ketentuan tertentu.

”Sekitar 50 juta gitu kan. walaupun dari manfaatnya kooperasi masih mengelola, masih menseleksi ya kan. Yang memang betul-betul barangkali, kan mereka yang lebih tau lah gitu kan,” pungkas ling. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *