BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM – Kawasan Padalarang dan Lembang di Kab. Bandung Barat, menjadi daerah yang setiap akhir pekan lalu-lintasnya selalu dipadati kendaraan. Hal itu disampaikanKepala Dinas Perhubungan (Dishub), KBB, Fauzan Azima didampingi Kasi Manajemen Rekayasa Lalu Lintas, Didin Muslihudin.
Fauzam mengatakan, pada cuti bersama usai Hari Raya Nyepi pada Selasa lalu (12/03), traffic counting dari pukul 06.00-08.00, mencatat ada 30.222 kendaraan yang melintas di Lembang dari kedua arah. Lalu di Padalarang pada hari dan jam yang sama kendaraan melintas dari Padalarang-Cianjur dan sebaliknya sebanyak 41.446.
“Paling mendominasi adalah kendaraan pribadi dan sepeda motor, terutama di Lembang yang merupakan daerah wisata,” tuturnya, Kamis (14/03).
Dalam monitoring traffic di KBB, pihaknya memaksimalkan sebanyak 129 kamera dari total 44 simpang untuk melakukan monitoring kondisi lalu lintas. Seperti di selatan mulai dari batas antara KBB dan Kabupaten Bandung, yakni Soreang-Cipatik, BBS, Simpang Darul Falah, hingga Alun-alun Cililin.
Lalu di perbatasan KBB dengan Cimahi di Padasuka, Cilame, Cimareme, Cangkorah, Citunjung, Pasar Batujajar, Simpang Tol Padalarang, Tagog, dan Ciburuy. Bergeser ke utara dimulai dari Simpang Paratag, UNAI, Lembang Park and Zoo.
Selain itu juga di kawasan eks Kampung Gajah, Simpang Beatrix, Grand Hotel, Inti Metal, Simpang Panorama, Orchid Forest, Tangkuban Parahu, dan The Lodge Maribaya. Serta di Setiabudi tugu batas antara KBB dan Kota Bandung.
Fauzan mengatakan, semua kamera pengawas itu terintegrasi dengan ruang Area Traffic Control System (ATCS) yang ada di kantor Dishub KBB. Namun, semua masih mengandalkan jaringan WiFi sehingga terkadang terkendala, karena faktor kondisi geografis wilayah KBB, khususnya di wilayah utara dan selatan.
Kendala jaringan WiFi yang kerap muncul membuat sensor pendeteksi volume dan jumlah kendaraan pada sistem Penghitung Lalu Lintas Otomatis (Plato) tidak beroperasi secara maksimal. Atas hal tersebut, Dishub KBB terpaksa masih melakukan counting jumlah kendaraan secara manual.
“Kendala jaringan sering kali membuat Plato tidak bisa share data ke server, sebab jaringan WiFi polanya sistem poin to poin dan itu memakan waktu. Jadi sebenarnya untuk server kita sudah mumpuni, tapi jaringan yang belum menunjang,” ucap Fauzan.
Menurut Fauzan, sampai saat ini pihaknya masih melakukan perbaikan Plato yang ada di sejumlah titik di wilayah KBB karena counting sangat penting dilakukan guna memberikan informasi kepada masyarakat terkait kondisi lalu lintas terkini. Sehingga jumlah kendaraan bisa diketahui real time, bahkan per jamnya.
Fauzan menegaskan, pihaknya akan coba menerapkan camera yang berfungsi untuk counting di enam titik, yaitu di Cipatik Soreang, Samsat, Ciburuy, Cikamuning, depan Minimania, dan Hot Spring Lembang. Nantinya juga akan coba menggunakan Fiber Optic (FO) yang cocok diterapkan di kawasan perkotaan.
“Mudah-mudahan semua bisa diarahkan ke FO terutama di wilayah perkotaan karena banyak keunggulan dari kualitas tampilan gambar,” sebutnya.
Fauzan berharap agar pada saat libur lebaran dan musim mudik nanti, kamera counting bisa diimplementasikan, sehingga kendaraan yang masuk di wilayah KBB bisa terpantau jumlah dan jenisnya.
“Semoga saja pada saat libur arus mudik dan balik lebaran nanti, untuk kamera counting sudah bisa diimplementasikan. Sehingga jumlah kendaraan yang melintas bisa diketahui langsung berdasarkan jenisnya,” pungkasnya. (*)






