Kritisi Keteledoran Pengelolaan Sampah, Pemuda Pancaseni Gelar Pameran Lukisan di TPA Sarimukti

Kritisi keteledoran pengelolaan sampah, pemuda pancaseni Gelar Pameran Lukisan di TPA Sarimukti. Foto/Istimewa

BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM – Sejumlah pengunjung terkesima menyaksikan pameran lukisan dengan judul ”Cul Wéh” yang digelar di TPA Sarimukti, Kab.Bandung Barat, (28/12).

Salah seorang pengujung, Rahmat (27) mengapresiasi pameran seni luki tersebut, karena digelar di tempat yang tak lazim sebagai ajang pameran.

”Ini artinya mereka memiliki kepedulian terhadap lingkungan, sehingga mereka menggelar acara itu di sini. Karya mereka bagus dan menggelitik. Setidaknya pameran ini menampar kita gar lebih peduli pada lingkungan terutama sampah,” kata Rahmat.

Koordinator Pameran Lukisan, Fatal mengatakan bahwa inti dari pameran tersbut adalah mengkritisi kelalaian manusia atas sampah. Fatal menyebut manusia perlu dikritisi karena mereka sampai saat ini, masing-masing pribadinya masih tidak bertanggung jawab atas sampah yang mereka produksi sendiri.

“Garis besar dari tema ”Cul Wéh” itu ingin memberi pesan tentang keteledoran manusia dengan sampahnya. Sampah ini jejak manusia. Pada pameran ini kami ingin menyampaikan masih banyaknya yang lepas tanggung jawab atas sampah mereka sendiri,” tegas Fatal.

Pameran yang digelar oleh Pemuda Pacaseni itu menampilkan lukisa di media lukis kanvas berukuran seratus senti meter dikali seratus sentimeter, dengan tema lukisan yang menyindir penanganan sampah di Bandung Raya.

Hal itu diungkapkan Alin, juru bicara Pemuda Pancaseni yang memberikan alasan bahwa sesuai dengan tema, maka pamerannya pun digelar di TPA yang menjadi tempat pembuangan sampah 4 Kabupatn Kota di Bandung Raya tersebut.

“Ini adalah pameran seni yang berisi kritik terhadap sampah. Rasanya tidak masuk akal saja ketika mengkritik sampah tapi di galeri mewah dan ruangan ber-AC. Jadi menurut kami mengkritik sampah ya ditempatnya langsung,” jelas Alin.

Ada delapan lukisan yang bertema kusutnya mata rantai pengelolaan sampah yang diangkat dalam lukisan tersebut, dari soal pencemaran yang berdampak pada aliran Sugai Citarum, tata kelola sampah sampai kebakaran TPA Sarimukti yang semakin membuat kusustnya Penanganan sampah di kawasan Bandung Raya.

“Melalui karya lukis ini berbagai persoalan itu dituangkan di dalam kanvas. Ada 8 karya yang dipamerkan. Tapi ada satu karya berjudul ‘Boikot Tubuh’ yang dibuat keroyokan oleh 4 seniman,” kata Alin. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *