Ditentang Oleh Beberapa Kelompok, Peneliti Jelaskan Bahwa Wolbachia Aman dan Bukan Rekayasa Genetik

Kementerian Kesehatan telah menerapkan inovasi teknologi wolbachia untuk menurunkan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Foto/Istimewa

JAKARTA, BANDUNGSATU.COM – Kementerian Kesehatan telah menerapkan inovasi teknologi wolbachia untuk menurunkan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia, menyusul riset yang dilakukan oleh Profesor Adi Utarini dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menemukan fakta bahwa Wolbachia bisa melumpuhkan atau menghambat replikasi virus dengue pada tubuh nyamuk.

Wolbachia sendiri sejauh ini sudah banyak dimanfaatkan di berbagai negara dan sudah terbukti keberhasilannya di Brasil, Australia, Vietnam, Fiji, Vanuatu, Mexico, Kiribati, New Caledonia, dan Sri Lanka.

Meski demikian di Indonesia ada beberapa kelompok yang menentang penggunaan Wolbachia karena dicurigai merupakan rekayasa genetik yang diduga disebarkan dengan tujuan tertentu. Bahkan ada pula elemen masyarakat yang menuding rekayasa genetic itu dilakukan Bill Gates.

Hal itu dibantah Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementrian Kesehatan RI dr. Imran Pambudi MPHM, dalam Bincang Ngobras Kemenkes, Selasa (19/12). Disebut Imran penggunaan Wolbachia dilakukan karena sudah terbukti efektifitasnya melalui riset.

“Intervensi vektor yang ketiga yaitu dengan teknologi nyamuk ber-Wolbachia karena telah terbukti bahwa penyebaran nyamuk A. aegypti ber-Wolbachia memberikan dampak positif bagi penurunan kasus dengue,” terang Imran.

Imran menjelaskan bahwa pilot project nyamuk ber-Wolbachia telah dilakukan di Yogyakarta. Pilot project itu, kata Imran, dilakukan sebelum melakukan penelitian tersebut dalam skala besar.

Sementara itu Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat & Keperawatan UGM dr. Riris Andono Ahmad, MD., MPH, Ph.D. mengatakan untuk mengetahui baik buruknya penggunaan wolbachia bahkan UGM melibatkan 20 ahli agar hasil penelitian tersebut bisa jelas apakah layak diaplikasikan atau tidak.

“Kami melakukan pengkajian selama enam bulan yang melibatkan 20 ahli dari berbagai bidang termasuk di antaranya bidang virologi, mikrobiologi, ahli serangga, ahli biodiversitas, dokter anak, psikologi, hingga ilmu sosial,” jelas pria yang akrab disapa Doni ini.

Doni mengatakan pada saat penelitian sudah dilihat resiko apa saja yang memungkinkan terjadi saat Wolbachia digunakan. Ia mejleaskan bahwa penelitian menunjukan tidak ada resiko-resiko yang membahayakan pada Wolbachia. Ia pun menagaskan tidak ditemukan adanya indikasi bahwa Wolbachia adalah rekaya genetik.

“Untuk menyangkal hal ini, bisa merujuk dari berbagai website resmi. Misalnya CDC, mereka secara tegas menyatakan bahwa nyamuk ini bukanlah nyamuk rekayasa genetika. EPA juga menjelaskan dengan tegas bahwa pada nyamuk, ada dua macam teknologi, nyamuk yang diinfeksi dan genetic-modified mosquito,” kata Doni.

Doni juga menjelaskan bahwa wolbachia adalah bajteri alami. Ia tumbuh dan hidup dalam tumbuh serangga. Meski demikian ia tidak merusak lingkungan dan tidak mengubah karakter nyamuk.

Wolbachia justru dapat menurunkan kemungkinan paparan dengue. Saat diujicoba di Yogyakarta pad akurun 2011-2015 justru Wolbachia berhasil menurunkan angka DBD sebanyak 77%. Bahkan menurunkan angka rawat inao sebesar 86%.

“Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Setelah pelepasan nyamuk ber-Wolbachia, fogging turun hingga 85%, tentunya ini sangat menggembirakan karena anggaran fogging bisa dialokasikan ke pengendalian penyakit lain,” ujar dr. Doni.

Terkait dengan banyaknya isu miring, sampai aksi penolakan, dosen FKM UI dan Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Prof. Dr. Ede Surya Darmawan, S.K.M., M.D.M, mengatakan, bahwa mereka yang memprotes harus melihat upaya pemerintah dan membaca kembali kajian ilimiah soal Wolbachia ini.

“Berbagai penelitian yang membuktikan manfaat dan keamanan nyamuk ber-Wolbachia selayaknya dijadikan landasan untuk melanjutkan pilot project ini ke kota-kota berikutnya,” kata Ede. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *