Diresmikan 2 Oktober, Jabar Siap Dukung Feeder untuk Whoosh

Presiden Joko Widodo akan meresmikan Kereta Cepat Jakarta- Bandung pada senin , (2/10). Sebelum peresmian, seangkaian uji coba sudah dilakukan . Foto/Istimewa

BANDUNG, BANDUNGSATU.COM – Presiden Joko Widodo akan meresmikan Kereta Cepat Jakarta Bandung pada Senin, 2 Oktober. Sebelum peresmian, serangkaian ujicoba sudah dilakukan. Meski tarif kereta api tersebut belum dipastikan di kisaran berapa rupiah, namun secara umum KCIC sudah siap secara operasional untuk menjalankan kereta api yang dalam ujicoba lalu melaju pada kecepatan 350 KM per jam.

Untuk kelancaran transportasi yang lebih cepat dari Jakarta ke Bandung tersebut, Pejabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin sudah menyiapkan langkah sesuai dengan instruksi yang disampaikan Presiden Joko Widodo untuk integrasi transportasi publik.

Instruksi tersebut disampaikan Presiden pada Rapat Terbatas bersama bersama sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju yang ikut dihadiri Bey, yang membahas integrasi transportasi publik di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu lalu (27/09).

Bey mengatakan, Presiden ingin Jabar segera mengintegrasikan Kereta Cepat Whoosh, terhubung dengan kereta feeder dari satu stasiun ke stasiun lainnya untuk mempermudah akses masyarakat.

“Kita tahu (Kereta Cepat Whoosh) sudah terintegrasi dari (Stasiun) Padalarang menuju Stasiun Kota Bandung menggunakan kereta feeder. Titik lainnya seperti (Stasiun) Tegalluar juga segera ada kereta feeder ke Kota Bandung atau tujuan sekitarnya,” ujar Bey, Jumat (29/09)

Presiden, kata Bey, juga meminta Jabar segera mengkaji rencana LRT yang akan mengintegrasikan wilayah Bandung selatan dengan utara sekaligus mengurai kemacetan.

“Harus segera dilakukan transportasi publik yang berbeda (LRT), jadi benar-benar baru tidak hanya mengandalkan yang sudah ada,” tegas Bey.

Untuk itu, Bey segera bertemu dengan Kementerian Perhubungan untuk menggali lebih detail LRT agar kajiannya tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Bey menjelaskan, bahwa pada ratas tersbut, Presiden juga meminta agar transformasi dari kendaraan pribadi ke transportasi publik terus disosialisasikan kepada masyarakat.

“Arahan Presiden semua (moda) transportasi sebaiknya terintegrasi untuk memudahkan dan memindahkan masyarakat dari transportasi pribadi ke transportasi publik,” ucap Bey.

Jika transportasi sudah terintegrasi, diharapkan kemacetan di kota metropolitan seperti Jakarta, Jabodetabek, Bandung Raya bisa dikurangi.

“Karena kita tahu bahwa kerugian yang dihasilkan oleh kemacetan sangat luar biasa, untuk Jakarta sekitar Rp65 triliun, tapi untuk Jabodetabek itu sekitar Rp100 triliun. Nah di daerah-daerah lain sekitar Rp12 triliun,” imbuhnya.

“Jadi Presiden mengingatkan harus ada inovasi khusus dalam pembangunan atau terintegrasinya transportasi publik,” kata Bey. (BYS/MIM)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *